Langsung ke konten utama

Postingan

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 7)

Berkata Adinata kepada Ki Gardapati dengan sopan. "Mohon ijin Ki Gardapati, berikanlah anak muda ini sejurus dua jurus untuk menambah khazanah ilmu kanuraganku". "Hem, bagus anak muda. Kamu masih punya unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Sudahkah kamu siap dengan resikonya melawanku. Aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu" kata Ki Gardapati. "Aku sudah siap Ki, bersiaplah menerima seranganku".
Tidak berapa lama kemudian Adinata sudah berhadap-hadapan dengan Ki Gardapati di gelanggang pertandingan. Orang-orang yang tadinya ketakutan mulai mendekat karena penasaran dengan pertarungan selanjutnya yang akan terjadi. Adinata langsung saja meloncat menyerang dengan lincahnya. Ki Gardapati terkejut dengan serangan yang dilancarkan oleh Adinata. Bahkan beberapa kali ia terpaksa meloncat mundur untuk sedikit menjaga jarak. "Hem, anak muda, aku akui kamu memang punya cukup bekal ilmu. Aku tak akan segan-segan lagi menyerangmu, terimalah seranagn balasa…
Postingan terbaru

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 6)

"Sekarang siapa yang akan melawanku, atau apakah kalian akan mengeroyoku juga, ayo maju, aku sama sekali tidak takut" tanya Ki Gardapati kepada Ki Satya dan Ki Adanu. Ki Gardapati adalah tokoh dunia persilatan dari golongan hitam yang sangat ditakuti. Ia sangat kejam dan tidak segan-segan untuk membunuh lawannya. Tingkatan ilmunya jauh melampaui Ki Saraga sahabatnya. Ki Gardapati terkenal dengan julukan bayangan hitam dari laut selatan. Ilmunya yang terkenal adalah Tapak Es Penghancur raga. Setiap orang yang terkena ajian Tapak Es Penghancur Raga bisa beku seluruh badannya dan terluka dalam yang sangat sulit dapat dipulihkan. Ki Satya dan ki Adanu berpandang-pandangan. Sejujurnya keduanya ngeri kalau harus melawan Ki Gardapati. Keduanya sudah kehilangan banyak tenaga ketika melawan Ki Saraga. Apalagi harus melawan Ki Gardapati yang kesaktianya jauh melampaui Ki Saraga belum lagi keadaannya masih segar bugar. "Kenapa kalian tidak menjawab, apakah kalian takut menghadapik…

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 5)

"Mana murid-murid perempuan kalian yang cantik-cantik dan masih muda, akan aku bawa ke Nusakambangan untuk menemaniku bersenang-senang" tiba-tiba Ki Saraga berkata dengan keras sambil matanya jelalatan mencari-cari murid perempuan Ki Satya dan ki Adanu dengan mata cabulnya. "Jaga mulutmu Saraga, dasar mulut sampah" Ki Satya marah sekali. "Dasar pendekar kurang ajar, sudah bosan hidup ya?" Ki Adanu juga marah sekali. Indraswari dan Ambarwati bergidik ngeri tak dapat membayangkan bila bersama Ki Saraga. "Buktikan, omongan besar kalian, maju kalian berdua hadapi seranganku ini" kata Ki Saraga sambil menyerang Ki Satya dan Ki Adanu. Ki Saraga langsung menyerang dengan senjata andalanya rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Ki Adanu dan Ki Satya harus berhati-hati jika tidak ingin terkena senjata andalan dari Ki Saraga. Ki Saraga memutar-mutar senjatanya dengan cepat dan sesekali seperti mematuk dengan derasnya menuju b…

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 4)

Sebelum pertandingan selanjutnya dimulai, tiba-tiba terdengar suara tawa yang keras menggelegar namun sangat menyakitkan untuk didengarkan. "Hai Adanu, Satya, kalian bermain-main kenapa kami tidak diundang" terdengar suara yang berat dan mengerikan. "Hei, kamu siapa, kesini kalau berani" Ki Satya menjawab. "Tampakan batang hidungmu hai tamu tak diundang" Kata Ki Adanu menimpali. "Ha ha ha ha, siapa takut" tiba-tiba muncul dua kelebat bayangan yang langsung turun ke gelanggang pertandingan. "Oh, rupanya kamu Ki Gardapati dan Ki Saraga, ada apa berani membuat keributan di sini" tanya Ki Satya. "Aku ingin tahu seberapa dashyat kepalan geledekmu Satya" jawab Ki Gardapati. "Kalau aku ingin tahu seberapa hebat tendangan halilintarmu Adanu" jawab Ki Saraga. Dunia persilatan sudah mengenal dua tokoh yang sangat terkenal di dunia hitam. Ki Gardapati adalah tokoh hitam yang terkenal kejam dan bengis dan menebar kejahatan dima…

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 3)

Pertandingan berikutnya adalah dua lawan dua. Ki Satya dan Ki Adanu telah sepakat, biar pertandingan tidak membosankan maka polanya di rubah dari satu lawan satu diubah menjadi dua lawan dua. Bhadrika dan Nismara murid Ki Satya dari Padepokan Lereng Merapi akan melawan Abiyasa dan Admaja murid Ki Adanu dari Padepokan Tebing Breksi. "Silahkan persiapkan diri kalian masing-masing" perintah Ki Adanu dengan tegas. Bhadrika, Nismara, Abiyasa dan Admaja segera bergegas mempersiapkan diri. Tidak berapa lamapun mereka berempat telah bersiap di gelanggang pertandingan. Penontonpun bersorak-sorak memberi semangat.
"Bersiaplah Kakang berdua, aku akan segera menyerang" kata Bhadrika kepada Abiyasa dan Admaja. "Baik Adi, kami berdua sudah siap menanti serangan dari kalian" jawab Abiyasa. Tidak berapa lama kemudian Bhdarika dan Nismara dengan gerak hampir serentak telah melompat menyerang dengan pukulannya yang cepat dan dahsyatnya. Inilah yang menjadi ciri khas perguru…

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 2)

Pertandingan berikutnya adalah Wilalung yang bertubuh tinggi besar melawan Danurdara. Keduanya segera masuk ke gelanggang pertandingan dan masing-masing segera mempersiapkan diri. "Bersiaplah Kangmas Wilalung, aku tidak akan segan-segan untuk menyerangmu" kata Danurdara memperingatkan. "Baiklah Adi Danurdara, aku sudah siap menerima seranganmu" jawab Wilalung dengan penuh percaya diri. Tanpa banyak basa-basi Danurdara langsung menyerang Wilalung dengan dashyatnya. Danurdara lebih banyak mengandalkan serangan lewat tendangan kakinya sesuai dengan ciri khas perguruannya yaitu Tendangan Geledek. Dengan tubuhnya yang tinggi besar, Wilalung agak kesulitan dalam menghindari setiap serangan dari Danurdara. Untuk itu Ia lebih banyak bertahan dengan cara menangkis setiap serangan dari Danurdara. Tidak terelakan, diantara keduanya sering terjadi benturan kekuatan. perlahan-lahan, keduanyapun mulai diliputi kelelahan.
Setelah sekian lama bertahan, Wilalung mulai kehilangan kes…

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 1)

Pagi harinya pertandingan segera dimulai. Lebih tepatnya latih tanding. Karena sejatinya pertandingan ini bukan untuk mencari siapa menang siapa kalah, namun lebih ke pertandingan persahabatan saja, untuk meningkatkan paseduluran diantara padepokan-padepokan yang ada di tlatah Mataram. Yang akan bertanding pertama kali adalah Indraswari murid dari padepokan lereng merapi melawan Ambarwati dari padepokan tebing breksi. Kedua-duanya sama-sama cantik dengan pesonanya masing-masing. Keduanya segera bersiap menuju gelanggang yang telah dipersiapkan. Gelanggang untuk pertandingan terletak di depan Pendopo Padepokan Tebing Breksi. Adapun peserta yang lain menonton mengitari lapangan. Ada juga penduduk desa disekitar padepokan yang turut menyaksikan pertandingan karena memang diperbolehkan oleh Ki Adanu. Ki Satya beserta Ki Adanu, dan tamu undangan yang lain duduk lesehan di Pendopo  di atas tikar yang disediakan untuk menyaksikan jalannya pertandingan dari kejauhan sambil menikmati hidangan …